Loading...

Batik Batang

Batik Batang diperkirakan sudah ada sejak jaman kerajaan Hindu-Budha di Jawa. Batik Batang pada umumnya dapat dikenali dari corak warna sogan ireng-irengan atau coklat kehitam-hitaman yang menjadi ciri khas dari daerah Batang. Batik Batang digolongkan sebagai batik Keratonan karena corak warna Sogan dari batiknya. Perbedaan batik Batang dengan batik dari daerah lainnya bukan hanya karena proses pembuatannya yang berbeda, melainkan juga karena batik Batang mempunyai ciri khas tersendiri yang merupakan suatu bentuk representasi dari nilai-nilai seni budaya serta kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Batang.

Batik Batang awalnya hanya menggunakan warna sogan, tetapi akhirnya warnanya lebih beragam karena daerah Batang adalah daerah Pesisiran yang banyak mendapatkan pengaruh dari budaya-budaya luar. Salah satu corak batik Batang yang terkenal adalah Batik Rifaiyah, warisan dari nenek moyang keturunan Syekh KH. Ahmad Rifa’i. Ulama yang lahir pada abad ke 18 tersebut menciptakan pola batik yang kemudian dikenal sebagai batik Rifaiyah.

Batik Rifaiyah memiliki aturan, yaitu adalah corak batiknya tidak boleh menggambarkan binatang atau makhluk hidup. Corak ini biasanya disamarkan dengan corak tumbuhan atau bunga. Cara pemakaiannya juga disarankan dengan dililit tradisional tanpa peniti dan juga tanpa digunting. Saat ini, jumlah masyarakat Batang yang masih mau membatik sangat menurun. Saat ini hanya ada satu sentra batik Batang. Jika keadaan ini terus terjadi, maka diperkirakan Batik Batang akan terancam punah kurang dari 10 tahun lagi.

Untuk membantu meningkatkan minat dan partisipasi masyarakat terkait pelestarian Batik Batang, Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) mengadakan pelatihan di Batang untuk membentuk ekosistem desa kreatif yang fokus pada kerajinan Batik Batang.